Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berkembang pesat terus meroket dengan segala perkembangannya. Abad 21 didominasi oleh sains dan matematika yang menuntut orang untuk berpikir cerdas dan kreatif. Teknologi masa kini teramat canggih. Peralatan-peralatan elektronik semakin kecil, berkecepatan tinggi, multi fungsi, hemat energi, kontrol otomatis, dan berwawasan lingkungan. Dengan segala manfaat yang diberikan, manusia terus menciptakan inovasi yang lebih instant dan praktis. Pikiran kreatif manusia inilah yang terus melahirkan inovasi-inovasi saat ini dan masa yang akan datang.
Setiap kali kita memahami ataupun mengalami sendiri suatu perubahan dan berpikir bahwa inilah yang tercanggih, ternyata umur kecanggihan itu bersifat sementara, sesuatu yang lebih canggih akan muncul di arena teknologi dan muncul di pasar sebagai produk yang tersedia untuk masyarakat umum. Perubahan di dunia Teknologi sedemikian cepat, pada tiga tahun terakhir ini kita sudah lupa bahwa teknologi yang lalu sudah tidak layak untuk bisa dimanfaatkan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga wajar saja kalu banyak orang berimajinasi tentang teknologi yang akan digunakan dimasa yang akan datang, entah 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi. Berbicara angan-angan memang mudah, namun implementasinya tidak semudah membalik telapak tangan. Mungkin kita membayangkan teknologi pada 2030 tapi bisa saja implementasinya baru bisa dirasakan lebih dari tahun 2030 atau bahkan bisa saja malah tidak akan terealisasikan karena segala keterbatasan sumber daya, sarana dan prasarananya.
Salah satu imajinasi saya tentang teknologi baru yang akan benar-benar diimplementasikan di semua Negara adalah “ Supermarket in Touch“. Inspirasi ini saya dapatkan setelah membaca artikel tentang proyek percontohan salah satu grup dagang terbesar dunia yaitu Metro Group yang bermarkas di Duesseldorf Jerman ini meluncurkan apa yang dinamakan Toko Masa Depan atau Future Store Initiative bulan April 2003 lalu. Namun sampai sekarang teknologi ini masih belum keluar karena masalah terbesarnya adalah banyaknya para perusahaan besar market yang tidak ingin, belum mau mengadopsi teknologi ini, sementara banyak industri yang mempermasalahkan akan standart dari kehadiran teknologi ini. Tapi mungkin saja masalah ini akan terselesaikan sehingga imajinasi saya tentang “ Supermarket in Touch” ini tidak usah menunggu tahun 2030 tapi bisa saja tahun 2020 sudah bisa diimplementasikan.
Apakah “Supermarket in Touch” itu ?
Saya membayangkan bahwa supermarket masa depan itu dikelilingi oleh dinding touchscreen yang memisahkan pembeli dengan rak-rak berisi barang yang dilengkapi dengan semacam lintasan seperti kerja konveyor di sekeliling rak lengkap dengan pemindai code. Dimana nantinya pembeli tinggal duduk dikursi yang berada disekeliling dinding kemudian menyentuh tombol-tombol pada dinding touchscreen ini untuk mendapatkan spesifikasi barang yang diinginkan.
Berbagai spesifikasi barang yang dinginkan tersebut akan ditampilkan antara lain jenis barang, merek, harga, jumlah persediaan yang masih ada, tanggal kadaluarsa dan tidak ketinggalan bagian terpentingnya adalah gambar 3 dimensi dari barang tersebut.
Kita juga bisa cepat mendapatkan barang yang kita butuhkan yaitu dengan menggunakan fungsi search berdasarkan spesifikasinya (jenis/tipe barang, harga, merk), sehingga dengan “Supermarket in Touch” ini kita tidak perlu pusing berjalan mondar-mandir kesana kemari sambil membawa keranjang/troli untuk mendapatkan barang dengan spesifikasi yang kita butuhkan. Ini karena setelah kita sudah fix mendapatkan barang yang kita inginkan dan menyentuh pilihan “BUY”, barang tersebut otomatis akan keluar dari rak yang berada didalam dinding transparan tadi (Touchwall), masuk kewadah yang berada disamping kursi yang kita duduki.
Di “Supermarket in Touch” ini kita tidak akan menjumpai tenaga kasir karena harga dari barang-barang yang kita beli telah dideteksi oleh pemindai (reader) yang dipasang pada wadah (keranjang) sehingga sudah dihitung otomatis oleh system komputer. Kemudian total harga yang harus kita bayar akan ditampilkan. Informasi mengenai total pembelian ini secara otomatis dikirimkan ke bank tempat kita menyimpan uang. Kemudian bank tersebut langsung memotong sejumlah uang dari rekening kita sesuai dengan total pembelian tadi. Proses auto debet ini benar-benar praktis dan sangat menghemat waktu.
Supermarket tidak perlu susah-susah lagi melalukan inventarisasi karena semua proses penjualan sudah tercatat dalam komputer.
Bagaimana “Supermarket in Touch” ini bekerja ?
Jika dibayangkan “Supermarket in Touch” ini memang mirip dengan yang ada di film Doraemon. Aneka minuman (baik minuman cola, buah2an, mineral, kopi, berjeli, susu mau hangat ataupun dingin), kartu telepon, rokok, korek, bisa dibeli sendiri yang memang di Tokyo sudah ada. Caranya, lihat dulu apa yang mau dibeli, masukan uangnya. Kalau ada uang pas, masukan uang pas, kalaupun tidak kembalian akan keluar secara otomatis juga. Bahkan mesin ini lebih pandai berhitung daripada kasir2 supermarket/minimarket di INA, uang kembaliannya pas, dan pakai uang bukan permen! Setelah uang dimasukan, pilih yang akan dibeli. Dia akan keluar dari bawah. Setelah itu, ya tinggal diambil
Dalam imajinasi saya, “Supermarket in Touch” ini menggunakan teknologi Touchwall yang lebih luas daripada Touchwall yang telah diluncurkan oleh perusahaan Microsoft yang hanya berukuran 4 x 6 kaki (setara 1,2 x 8 meter). Touchwall merupakan layar komputer multitouch.Touchwall punya sistem mekanis yang lebih simpel. Cukup dengan PC, laser, dan kamera inframerah. Dimana nantinya Touchwall pada “Supermarket in Touch” ini sudah diprogram dengan segala database dari barang-barang yang dimiliki. Touchwall ini dalam imajinas saya nanti sebagai dinding pembatas antara rak barang dengan pembeli, sebagai komputer touchscreen yang luas sehingga banyak orang bisa melakukan pembelian lewat Touchwall ini.
Di “Supermarket in Touch” ini tidak perlu melakukan scanning barcode 1 persatu item nya untuk mentotal belanjaan. Karena di “Supermarket in Touch” , teknologi barcode akan telah beralih menggunakan teknologi label canggih yang saat ini sedang dikembangkan. Sistem yang nantinya akan menggantikan sistem UPC (barcode) ini disebut Radio Frequency Identification (RFID). Ada dua tipe RFID: Inductively Coupled RFID dan Capacitively Coupled RFID. Inductively Coupled RFID sangat mahal karena memerlukan silikon dalam jumlah banyak dan kumparan kawat logam. Karena itulah, para peneliti mulai mengembangkan Capacitively Coupled RFID
Capacitively Coupled RFID juga menggunakan silikon sebagai microprocessor, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan Inductively Coupled RFID (hanya sebesar 3 mm2). Silikon mungil ini mampu menyimpan data sebanyak 96 bit (BIT = Binary DigIT). Ini berarti ada banyak sekali data yang bisa disimpan dalam satu chip kecil ini, mulai dari harga barang, tanggal produksi, sampai tanggal kadaluwarsa. Semua informasi mengenai produk yang bersangkutan bisa disimpan dalam chip mungil tersebut. Sebagai pengganti kumparan kawat logam yang mahal, Capacitively Coupled RFID menggunakan tinta karbon khusus yang berfungsi sebagai antena pengirim sinyal radio. Silikon dan elektroda tinta karbon ini ditempelkan di balik label kertas yang bentuknya mirip bar code yang biasa kita gunakan saat ini. Sistem ini menggunakan energi listrik yang dihasilkan oleh alat penerima sinyal (jadi tidak menggunakan medan magnet seperti pada Inductively Coupled RFID) sebagai sumber tenaga. Dan karena menggunakan bahan kertas yang murah, label canggih ini nantinya bisa digunakan pada setiap produk yang selama ini menggunakan sistem UPC (barcode).
Dengan teknologi ini belanja di supermarket pun semakin mudah dan nyaman. Dengan cara ini, diharapkan bisa meningkatkan loyalitas pelanggan dan tingkat penjualan juga menghemat tenaga dan biaya. Tetapi kurang sesuai jika diterapkan diIndonesia karena mengurangi lapangan kerja (kasir).Hehehe….Tapi tetap saja saya berharap teknologi ini benar-benar terjadi di Indonesia. Mungkin teknologi ini belum tentu akan tepat ke seluruh lapisan masyarakat luas bahwa perkembangan teknologi tidak bisa di stop atau di tunda tetapi akan terjadi apakah kita siap atau tidak.
Alhamdulillah farkah
(1110) (41209)
Sabtu, 03 Januari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)